Mereka kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya, cupu, culun, lemot dan berbagai kata-kata lainnya seolah dengan jelas memprediksikan mereka sebagai seorang pecundang, seorang pria yang ditakdirkan menjadi pemimpin tetapi untuk membuat orang melihatnyapun tak mampu.
Terkadang mereka ini adalah pengecut akut yang akan selalu merasa rendah dibandingkan teman-temannya, hati mereka akan cenderung meng”iya”kan segala bentuk ejekan temannya, tak mampu bangkit dan selalu berada dibawah.
Jika ada yang mengejek dirinya pasti ingin marah dan memukulnya, tetapi itu hanya bayangan, karena ia sudah menilai dirinya sebagai pecundang, berani melawanpun akhirnya akan kalah dan justru semakin mempermalukan dirinya.
Pada masalah yang lebih berakar seperti percintaanpun semua ini akan sama, seorang pria pecundang yang bahkan tak akan berani mengungkapkan sayang, jelas karna ia merasa tak aka nada wanita yang meliriknya.
Setiap dari mereka hanya akan mampu jatuh cinta diam-diam, taka da sedikitpun keberanian terbesit untuk mengungkapkan perasaan. Hanya mampu menjadi pengagum rahasia yang tak jarang berkedok persahabatan.
Namun sesekali, kami ingin sekali melawati batasan yang kami buat sendiri, mungkin dengan mengungkapkan isi hati kami kami akan merasakan sakit berlebih, yaitu ditolak dan kemudian dijauhi orang yang disayang.
Tapi kadang kami sang pecundang berpikir bahwa kami akan mengerti setelah kami ditolak.
Dan mungkin sebagian besar akan mendapatkan penolakan karena tak pernah PDKT kok tiba-tiba nembak, walaupun teman dekat mungkin wanita merasa sangat asing, tapi beruntunglah bagi minoritas yang diterima, karena kalian berhasil untuk keluar dari zona pecundang.
Ditolak dan dijauhi orang yang disayang memang menyakitkan, rasanya tak mampu berbuat apa apa, hingga akhirnya kami akan mencari teman yang mampu membantu kami lolos dari jeratan pemikiran bodoh kami ini.
Mungkin curhat pada teman yang mempunyai pacar dan banyak mantan kadang membuat kami minder, tapi beruntunglah kami pasti ada teman yang mendukung kami untuk berubah.
Sebenarnya yang kami pikirkan ini terlalu bodoh dan memandang rendah diri kami dan tanpa sadar merendahkan wanita yang kami sayang, jadi beginilah yang kami pikirkan.
Aku tidak ganteng : tidak semua wanita akan memandang fisikmu saja, bahkan mereka lebih membutuhkan perhatian dan ketulusan dari pria, bukan membutuhkan tampangnya.
Aku tidak kaya : mungkin ada wanita matre, tapi itupun sangat sedikit, banyak dari mereka mementingkan harta pria, tapi perhatian dan ketulusan, karena harta bisa dicari.
Aku bodoh : banyak wanita yang suka pria smart, tapi tak sedikit wanita suka pria bodoh dan konyol yang tingkahnya justru mampu membuat wanitanya tertawa bahagia karna semua kembali kepada perhatian dan ketulusan.
Tapi aku tak berani untuk memberikan perhatian bahkan sekedar menanyakan kabar.
“disitulah letak dirimu yang pecundang, bukan orang yang mengejekmu yang harus kamu lawan, tapi rasa ketakutan kamu dan kebodohan kamu yang harus kamu lawan”
Ini barulah tahap berusaha mengungkapkan, setealah sadar akan kesalahannya kami pasti belajar untuk memperbaikinya, para sahabat yang siap membimbing pasti akan selalu setia menjawab apa yang kita tanyakan.
Tahap berikutnya kami sedikit demi sedikit berani mengungkapkan perasaan kami pada mereka yang kami cintai, mendekati, memberi perhatian dan menyatakan perasaan. Hanya ada dua pilihan, kembali ke awal karena ditolak atau membangun kebanggaan baru setelah diterima.
Mungkin disini sebagian besar dari kami akan diterima, mulai belajar mencintai dan belajar merasakan dicintai oleh mereka yang sempat kita damba.
Namun, para pecundang yang merasa hanya memiliki cinta akan sangat takut kehilangan orang yang sangat mereka sayang, mereka akan cendrung protektif dan mengekang, akhirnya akan muncul amarah dan saling ketidakpuasan, bertengkar karena saling tidak nyaman, hingga akhirnya wanita yang kami cintai pergi meninggalkan kami, sebagian dari kami menyalahkan wanita yang tidak mengerti betapa sayangnya para pecundang ini dengan mereka, kami hanya terlalu takut kehilangan apa yang sangat berharga, untuk itulah kami genggam erat untuk menjaganya, tanpa kami sadar bahwa wanita seperti pasir, semakin digenggam semakin tak tergenggam.
Sepeninggalan wanita yang kami cintai akan muncul berbagai prasangka seperti tak mengerti perasaan kami, mereka tak mencintai kami, cewe itu matre, sukanya yang ganteng, dan mungkin karna aku bodoh.
Pecundang akan kembali berpikir seperti pecundang.
Tanpa sadar sebenarnya yang kita beri saat bersama bukanlah perhatian tetapi aturan yang mengekang, amarah yang berlebihan, dan tuduhan-tuduhan yang tak pantas kami ucapkan.
Wanita butuh perhatian dan ketulusan, mereka ingin dipercaya bahwa mereka juga mencintai kita tanpa perlu ada rasa takut yang berlebihan, namun kami yang pecundang hanya berpikir bagaimana mempertahankan yang kami dapat dengan perjuangan.
Ketulusan yang awalnya kami berikanpun akan sirna seiring banyaknya tuntutan-tuntutan yang kami ajukan, tanpa sadar kami kembali menjadi pecundang.
Para wanita yang pernah kami cintai, maafkan kami pernah berpikiran buruk tentang kalian, saat bersama kalian kami memang hanya pecundang, terimakasih atas pembelajaran yang kalian berikan, saat ini adalah saatnya pembuktian, bahwa kami bukanlah pecundang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar